Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Govt Insurance policy

“Maaf Pak, biaya pengobatan atas kecelakaan istri dan anak Bapak tidak bisa diklaim.” kata pegawai Askes setelah meneliti beberapa lembar kertas yang dipegangnya. “Loh, kok gak bisa…kenapa, Bu?” Tanya saya dengan penuh keheranan. “Karena istri dan anak Bapak ditangani di Rumah Sakit yang tidak bekerja sama dengan Askes.” Jelas Ibu itu lagi. “WHAT… kecelakaan memangnya bisa diatur-atur, kejadiannya kebetulan dekat Rumah Sakit itu, lagipula dengan dua luka robek sepanjang 3 cm di bibir atas dan pelopak mata dengan  darah bercucuran, jelas perlu penanganan yang cepat, harus cepat dijahit.” Saya berusaha ngotot karena tidak percaya dengan penjelasan yang baru saya dengar tadi. “Iya Pak, mohon maaf, tidak bisa karena itu aturannya.” Kata petugas Askes sambil kemudian menyerahkan brosur daftar keluhan yang bisa diklaim oleh Askes.

KONYOL, itu kata yang langsung terbetik ketika mendengar penjelasan petugas Askes tersebut. Karena masih kaget dengan jawaban yang diberikan, saya sempat meminta petugas tersebut untuk mencari informasi yang tepat untuk kasus yang menimpa Istri dan anak saya. Petugas itupun segera menelepon seseorang yang saya duga adalah atasannya. Jawabannya pun tetap sama, aturannya memang begitu. Saya pun lantas pamit dan duduk tertegun di atas motor saya.  Saya harus memutar otak dari mana saya akan menutupi biaya hidup keluarga sampai akhir bulan karena uang kami  terkuras untuk biaya berobat dan tidak bisa DIGANTI.

Peristiwa yang saya ceritakan di atas adalah pengalaman nyata yang menimpa keluarga saya yang terjadi di awal tahun 2013. Istri saya yang mengendarai sepeda motor dengan membonceng dua anak kami yang masih berumur 8 tahun dan 3 tahun mengalami kecelakaan tunggal. Motornya terjatuh setelah terpeleset pelumas yang berceceran di jalan utama Ahmad Yani Bekasi Barat. Dua luka robek di bibir atas dan di kelopak mata kanan masing-masing sepanjang kurang lebih 3 cm membuat darah bercucuran. Sementara anak saya yang berumur 8 tahun mengalami luka parut di lutut kanannya. Lebih miris lagi melihat anak bungsu saya yang berumur 3 tahun. Dia mengalami luka parut di bibir atas dan luka robek kecil di kelopak mata kanan.

Rumah sakit yang paling dekat dengan lokasi kejadian adalah RS Mitra Keluarga Bekasi. Secara spontan orang-orang di sekitar menolong keluarga saya dan membawa mereka ke RS tersebut. Saat itu saya berada di lokasi yang terpisah sehingga saya baru tahu kejadian itu setelah mendapat informasi dari RS Mitra Keluarga bahwa keluarga saya ada di unit Gawat Darurat (UGD). Dokter UGD sedang menjahit luka istri saya ketika saya tiba di RS. Sementara anak saya sedang ditangani oleh perawat RS. Kami masih bersyukur karena kami hanya dirawat jalan sehingga diperbolehkan pulang  malam itu juga. Meski tidak bermalam, saya sempat kaget karena biaya yang dikenakan lumayan besar. Sebagai seorang PNS, nilai Rp 1,5 juta sangat berarti. Saat itu kami masih punya harapan bahwa biaya itu akan diganti oleh Askes. Harapan itu pudar begitu mendengar penjelasan petugas Askes sebagaimana yang diceritakan di awal.

Harus ada REFORMASI asuransi kesehatan bagi PNS di Republik tercinta ini…!!! Itu yang terbetik langsung di otak bodohku ini saat mendapat perlakuan tidak “manusiawi” dari Asuransi Pelat Merah ini. Betapa tidak, pengabdian kami selama lebih dari 10 tahun dan dengan rela setiap bulan gaji dipotong untuk membayar premi asuransi ini ternyata kurang dihargai.  Saya pun kemudian mulai membanding-bandingkan dengan pegawai pada instansi atau perusahaan lain. Terlalu jauh kalau saya bandingkan dengan asuransi kesehatan yang diterima oleh pegawai BUMN, apalagi swasta nasional. Sakit – datang berobat – tunjukkan kartu peserta asuransi – selesai, urusan pembayaran itu masalah RS dan pihak asuransi, semudah itu. Ada lagi yang menggunakan mekanisme reimbursement, alias penggantian biaya oleh pihak asuransi dilakukan kemudian setelah peserta yang berobat telah terlebih dahulu membayar biaya tersebut menggunakan uangnya sendiri, tentunya dengan menunjukkan bukti-bukti pembayaran yang valid. Meski ini lebih ribet dibandingkan dengan cara sebelumnya, namun ada nilai kepastian yang bisa dirasakan oleh peserta, sesuai namanya “asuransi” yang berarti kepastian atau jaminan.

Family-Health04

Memang premi yang dibayarkan oleh PNS untuk Askes ini dinilai terlalu kecil, hanya sekitar 2 persen dari gaji pokok. Masalah umum adalah karena gaji pokok PNS memang masih relative rendah, maka prosentasi darinya (premi) menjadi sangat kecil. Namun apakah ini lantas menjadi alasan untuk tidak me”manusiawi’kan PNS. Bagaimana ingin meningkatkan kinerja PNS manakala pegawai tidak menemukan kenyamanan dalam hidup dan bekerja. Pengertian kenyamanan di sini adalah adanya kepastian atau jaminan bahwa pada saat tidak terduga seperti ada anggota keluarga yang sakit, penghasilan pegawai tidak lantas tergerus oleh biaya pengobatan yang semakin tinggi dari hari ke hari. Penghasilan PNS yang sudah relative rendah sudah selayaknya tidak lagi dibebani oleh biaya-biaya tak terduga seperti pengobatan ini. Jelas…ini menjadi tanggung jawab negara dalam hal ini adalah pemerintah bersama-sama dengan wakil-wakil rakyat yang terhormat.

Solusi dari masalah ini sudah sangat jelas dan terang benderang, yaitu naikkan premi asuransi kesehatan PNS, tanpa mengurangi penghasilan tetapnya, tentunya harus berimbas pada penjaminan kesehatan pegawai negeri sipil yang berkualitas dan “manusiawi”.