Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sunadi grad

Dalam kurun waktu tujuh tahun dari 2008 sampai dengan saat ini, pegawai lulusan Eropa di salah satu unit eselon I di Kementerian Keuangan tergolong langka. Hal ini harus dipahami bahwa perlu adanya diversifikasi kompetensi akademik pegawai dari HRD unit tersebut sehingga dapat memperkaya dinamika perumusan kebijakan publiknya. Hingga saat ini, tercatat baru satu pegawai yang telah menamatkan studi masternya di Belanda. Namun hal ini membawa dampat positif, karena terbukti setelah salah satu pegawainya berhasil mendapatkan beasiswa StuNed dari Netherlands Education Support Office atau NESO (dahulu NEC, Netherlands Education Center) pada tahun 2008, hal ini seperti membuka jalan kerjasama bagi NESO dan DJ** untuk terus berupaya mengembangkan kualitas SDM-nya. Setidaknya di tahun 2011, DJ** kemudian mampu mengirimkan sekitar 23 orang pegawainya untuk mengikuti pelatihan singkat tematik atau yang disebut Tailor-made Training di bidang Lelang di Vrije University Amsterdam Belanda. Dilanjutkan di tahun 2014 ini kembali direncanakan pengiriman sekitar 20 pegawainya untuk Tailor-made Training  bidang Barang Milik Negara. Ini belum terhitung beasiswa-beasiswa shortcourse yang diikuti secara individual oleh pegawai DJ**, seperti Beasiswa NFP Short Course Executive Program e-Government di Maastricht School of Management Maastricht Belanda yang kebetulan diikuti oleh penulis sendiri pada tahun 2012, serta beasiswa S2 StuNed oleh dua pegawai DJ** pada tahun 2013 dan 2014.

Di sisi yang lain, status tersebut terasa istimewa mengingat ketika menerima beasiswa S2 luar negeri, posisi saya berada di luar Jawa di tengah dominasi pegawai kantor pusat Jakarta dan sekitarnya sebagai “penguasa” informasi beasiswa luar negeri. Saat itu tahun 2006 lalu lintas informasi belum secepat dan se-massive sekarang dengan adanya penggunaan website, e-mail dan ponsel. Informasi Program S2 luar negeri tawaran dari Departemen Keuangan masih sangat terbatas, itu pun biasanya baru sampai ke kantor-kantor di daerah terutama di luar Jawa di penghujung batas waktu sehingga meminimalisasi upaya peminat untuk mempersiapkan dokumen persyaratannya. Belum lagi persiapan ujian seleksi dan sebagainya. Kalaupun sempat mengirimkan berkas persyaratan, dengan waktu yang terbatas untuk persiapan ujian, peserta tersebut harus juga mempersiapkan biaya dan waktu serta fisik yang tidak sedikit untuk mengikuti ujian yang diselenggarakan di Kantor Pusat Jakarta. Singkatnya, keterbatasan informasi, jarak dan pengorbanan yang cukup besar menjadikan pegawai yang berminat di luar Jawa sangat terkendala untuk mendapatkan beasiswa luar negeri. Tidaklah mengherankan bila penerima beasiswa luar negeri didominasi oleh pegawai di pulau Jawa, utamanya Jakarta dan sekitarnya.

Berlatar belakang demikian, saya kira tidak berlebihan bila kemudian saya sering mendapatkan pertanyaan dari teman-teman sejawat mengenai pengalaman saya dan meminta saya untuk berbagi cerita tentang bagaimana saya dulu mendapatkan beasiswa tersebut. Dalam tulisan ini, saya mencoba untuk berbagi pengalaman saya memperoleh beasiswa luar negeri secara mandiri. Meski kondisi saat ini sangat mungkin sudah tidak update, setidaknya ini Insya Allah memberi pesan bahwa selagi ada kemauan, Allah pasti akan memberi jalan.

Ada beberapa tahap yang saya lalui dalam mendapatkan beasiswa luar negeri yaitu sebagai berikut:

1. Penggalian Informasi

Tidak seperti sekarang dimana informasi dapat dengan mudah diakses melalui internet, saat itu saya menggali dan mendapatkan informasi dari surat kabar harian lokal, sebut saja “Sumatera Ekspres”. Universitas Sriwijaya Palembang bekerja sama dengan NEC membuka kesempatan beasiswa S2 ke Belanda melalui jalur praregistrasi yang berlaku khusus untuk pendaftar dari luar Jawa. Berkas lamaran diajukan ke Kampus Program Pasca Sarjana (PPS) Unsri.

2. Seleksi TOEFL Tahap I

Setelah melalui seleksi adminstrasi oleh PPS Unsri dan dinyatakan lulus seleksi administrasi, peserta diikutkan ujian TOEFL Tahap I di Lab Bahasa PPS Unsri. Karena melalui jalur Praregistrasi, maka skor TOEFL yang dipersyaratkan adalah minimal 450 s.d. 550. Skor saya waktu itu hanya 530. Seluk beluk ujian TOEFL dapat dilihat pada artikel sebelumnya https://nobericsun.wordpress.com/2013/09/27/strategi-mendongkrak-nilai-toefl-ielts/

3. Wawancara Tahap I

Berdasarkan hasil seleksi administrasi dan nilai TOEFL yang diperoleh, peserta dipanggil untuk melakukan wawancara dengan NEC yang dilakukan di Palembang. Wawancara dilakukan dalam bahasa Indonesia guna mengetahui dan memverifikasi latar belakang peserta dan kesesuaian antara bidang studi yang dipilih dengan pekerjaannya saat ini. Intinya adalah pendalaman dari isian formulir aplikasi yang disampaikan oleh pendaftar.

4. Seleksi Tes Potensi Akademik

Setelah berselang kurang lebih sebulan, tepatnya bulan Desember 2006, NEC menghubungi saya bahwa saya berhak diikutkan seleksi berikutnya yaitu Tes Potensi Akademik (TPA) di Jakarta. Penyelenggara TPA yang ditunjuk adalah Oto Bappenas Jakarta. Tiket perjalanan ditanggung sepenuhnya oleh NEC. Adapun nilai TPA minimal adalah 550 sebagai syarat bagi  peserta apakah dapat diikutsertakan dalam Kursus Bahasa Inggris Persiapan TOEFL dengan fokus pada penggunaan bahasa Inggris untuk tujuan akademik atau yang disebut English for Academic Purpose (EAP).

5. Kursus Bahasa Inggris / Pre departure Training

Setelah dinyatakan lulus seleksi TPA, peserta diikutsertakan kursus Bahasa Inggris EAP selama 5 bulan lebih dari bulan Januari s.d. Juni 2007. Saat itu lembaga bahasa Inggris yang bekerja sama dengan NEC adalah ELS (English Language Service) Mampang Jakarta Selatan.  Dengan dibekali Surat Tugas Belajar dari Kantor Pusat dan tiket perjalanan serta tambahan uang saku sebesar Rp 1 juta setiap bulannya dari NEC, setiap peserta diharuskan konsentrasi mengikuti training yang dijadwalkan setiap hari, Senin-Jumat dari jam 09.00 s.d. 16.00 WIB. Akomodasi atau penginapan ditanggung masing-masing peserta. Strategi untuk mendongkrak skor TOEFL dapat dilihat pada artikel berikut https://nobericsun.wordpress.com/2013/09/30/strategi-mendongkrak-nilai-toeflielts-untuk-meraih-beasiswa-idaman-bagian-ii/.

6. Pendaftaran Ke Perguruan Tinggi di Belanda

Penting diketahui bahwa proses pendaftaran ke perguruan tinggi untuk mendapatkan admission letter atau letter of acceptance (LOA)  dilakukan pada masa training ini. Ini dimaksudkan agar konsultasi peserta dengan NEC mengenai perguruan tinggi dan program studi yang akan diambil  bisa dilakukan dengan mudah karena jarak antara tempat kursus dengan kantor NEC relatif dekat (Mampang – Gatot Subroto, sekitar 2 kilometer). Mengingat hasil TOEFL yang juga merupakan dokumen persyaratan di semua perguruan tinggi di Belanda baru diperoleh diakhir masa training, maka admission letter yang diterima bersifat sementara atau disebut juga Provisional Admission Letter. Ini dimaklumi oleh seluruh perguruan tinggi di Belanda karena NEC telah menginformasikan hal ini ke semua institusi pendidikan tentang adanya program preregistrasi ini.  Pada tahap ini pilihan perguruan tinggi masih mungkin mengalami perubahan. Sebelum jatuh pada pilihan terakhir di Maastricht School of Management (MsM) Maastricht program MBA, saya sempat mendaftarkan diri ke Leiden University program Master of Philosophy dan Institute of Social Studies Den Haag program Master of Arts.

7. Ujian TOEFL Institutional Testing Program (ITP) Tahap II

Mengingat tujuan dari training bahasa Inggris adalah sebagai persiapan penggunaan bahasa secara akademik dan sebagai upaya peningkatan nilai TOEFL, maka setiap bulan dilakukan ujian TOEFL sebagai bahan evaluasi. Di akhir traning, semua peserta diikutsertakan dalam Ujian TOEFL ITP yang diselenggarakan oleh NEC (saat itu NEC adalah salah satu lembaga resmi penyelenggara TOEFL ITP). Hasil TOEFL ITP inilah yang digunakan sebagai syarat beasiswa S2 Belanda. Meskipun syarat yang ditentukan oleh NEC (yang kemudian pada tahun 2007 berubah nama menjadi NESO) adalah 550, namun setiap peserta diharuskan mencapai skor minimal yang dipersyaratkan oleh masing-masing perguruan tinggi yang ditujunya. Alhamdulillah, skor TOEFL yang saya peroleh saat itu adalah 583.

8. Wawancara Tahap II (Terakhir)

Setelah skor TOEFL memenuhi syarat penerimaan beasiswa, semua peserta dipanggil untuk melakukan wawancara terakhir di kantor NESO. Kali ini pewawancaranya adalah native speaker dan tentu dalam bahasa Inggris. Interview ini sekaligus untuk mengukur kemampuan lisan peserta dan kesiapan peserta dalam mengikuti perkuliahan dalam bahasa Inggris.

9. Penerimaan Scholarship Award

Bagi peserta yang telah melewati tahap seleksi, diperbolehkan kembali ke daerahnya masing-masing. Kurang lebih 1,5 bulan adalah masa penantian hingga scholarship award diberikan kepada peserta yang lulus seleksi. Penerimaan scholarship award tersebut dilakukan bersamaan dengan penandatanganan perjanjian di atas materai dengan NESO selaku sponsor di kantor NESO Jakarta.

10. Pre Departure Ceremony

Upacara pelepasan penerima beasiswa ke Belanda dilakukan di Erasmus Huis Kuningan Jakarta Selatan. Acara ini merupakan ajang pertemuan semua peserta baik dari jalur praregistrasi maupun jalur umum dan alumni Belanda. Tujuannya adalah penyampaian dan pertukaran informasi tentang kehidupan di negeri Kincir Angin ini baik kehidupan sehari-hari maupun akademik. Tentu pada saat itulah peserta mengetahui siapa-siapa saja nantinya yang akan menjadi kawan seperjuangan yang tinggal satu kota di Belanda, karena tiket perjalanan sudah diatur sedemikian rupa oleh NESO agar peserta yang mempunyai tujuan kota yang sama dapat diberangkatkan bersama-sama.

And…here I was…😉

gaya lux

Demikian kisah perjalanan dan perjuangan saya untuk mendapatkan beasiswa di Belanda. Mudah-mudahan tulisan ini membantu semakin bersemangat berburu beasiswa luar negeri.

Namun demikian, mudah-mudahan informasi ini menjadi tidak bermanfaat karena Anda sudah mendapatkan beasiswa idaman Anda🙂