Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , ,

Meneer dan Pak Karto

“Verdommechh….!! Nanti…nanti…terus. Kapan kamu orang mau bayar…???!! Sudah dua bulan kamu nunggak, masih juga bilang nanti. Itu kamu punya sawah, buat bayar bunganya saja tidak cukup..!! Pak Karto hanya bisa tertegun diam sambil air matanya meleleh tanpa sadar, wajahnya makin tertunduk lesu tak berani menatap Si Meneer.

Sepenggalah monolog di atas rasanya sudah sangat familiar kita dengarkan di salah satu dari sekian film-film bernuansa sejarah perjalanan bangsa kita. Namun sadarkah Anda bahwa dengan gaya bahasa dan metode yang berbeda, ternyata fenomena seperti ilustrasi di atas masih dapat kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita di masa sekarang ini. Uang tidak lagi semata-mata dianggap sebagai alat tukar pembayaran yang sah akan tetapi sebagai komoditi yang memiliki nilai waktu dan kesempatan yang dapat diperjualbelikan layaknya ikan, cabe, tomat atau apapun di pasar tradisional. Dalam konteks bisnis, uang tidak lagi memiliki nilai sosial yang akan dipinjamkan secara percuma meskipun untuk sekedar memenuhi kebutuhan konsumtif. Dalam skala yang lebih besar dan tujuan produktif, keuntungan “si Meneer” tidak lagi hanya berupa bunga atau jasa atau apapun yang dapat dipersamakan dengan itu, akan tetapi harus ada tambahan jaminan berupa barang-barang tidak bergerak milik “Pak Karto”. Tujuannya jelas….apabila “Pak Karto” tidak dapat memenuhi kewajibannya, “sawah”nya lah yang akan dijual dengan harga kepѐpѐt alias harga likuidasi untuk mengurangi hutang Pak Karto yang nahas ini.

Karena kemarau panjang, Pak Karto rupanya tidak punya cara lain kecuali meminjam uang dari Si Meneer untuk keperluan pengairan irigasi sawahnya itu, walaupun surat-surat sawah satu-satunya itu yang dia berikan pada si Meneer itu untuk jaminan pelunasan hutangnya. Meskipun terlilit hutang Pak Karto yang pernah tiga tahun nyantri di pondok pesantren tetangga desanya, tidak akan lupa dengan wejangan ustadznya. Baginya hutang tetaplah hutang yang wajib dibayarnya. 

Masih segar ingatan Pak Karto sewaktu Pak Kyai menyampaikan hadits Nabi Muhammad saw, dari Maimun Al-Khudri dari ayahnya ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Siapapun laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan mahar sedikit atau banyak tanpa niatan dalam dirinya untuk memberikan haknya, dia tipu istrinya lalu dia (laki-laki itu) mati sementara belum memberikan haknya maka akan bertemu Allah di hari kiamat dalam status sebagai pezina. Dan siapapun laki-laki yang berhutang dan tidak ada niatan untuk melunasi hak orang yang menghutanginya, ia tipu dia sehingga dia mengambil harta orang yang meminjaminya sampai dia mati dan belum membayar hutangnya maka nanti akan bertemu Alah dalam status sebagai pencuri.” (Shahih, HR. At-Thabarani, Shahih At-Targhib no.1807)
Dan juga hadits dari Abu Hurairah ra. Ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa mengambil harta manusia dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa mengambil harta manusia dengan niat menghancurkannya, niscaya Allah akan menghancurkannnya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)

SawahAndaikan kemarau telah berakhir dan sawahnya bisa menghasilkan panen yang baik, tidak terbetik sedikitpun niat Pak Karto untuk menunda-nunda membayar hutangnya itu. Terlebih dia ingat Pak Kyai pernah mengajarkannya hadits dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Penundaan orang yang mampu (memenuhi kewajibannya) itu adalah perbuatan zalim.”(Shahih, HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain: “Penundaan orang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’I, dalam Sunan al-Kubra, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban)
Menghalalkan kehormatannya berarti membolehkan bagi orang yang mengutangi untuk berkata keras padanya, sedangkan menghalalkan hukumannya yakni membolehkan hakim untuk memenjarakannya.

Bukanlah bentakan keras Si Meneer ataupun ancaman penjara yang membuat Pak Karto tetap bersikukuh untuk membayar hutangnya, akan tetapi lagi-lagi dia teringat sebuah hadits yang pernah diajarkan Pak Kyai bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang rohnya berpisah dengan jasadnya dan dia terbebas dari tiga perkara, maka dia akan masuk ke dalam Al-Jannah (surga); (tiga perkara itu adalah) mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi, hutang, dan kesombongan.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dan ini lafadz beliau. Lihat Shahih At-Targhib, 2/166 no.1798) 

Bahkan dalam hadits lain dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw, beliau bersabda: “Jiwa seorang mukmin tergantung dengan hutangnya sampai dilunasi.”(Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan hasan; Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib no. 1811)

Dari Samurah, ia berkata: Rasulullah saw berkhutbah kepada kami lalu mengatakan: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorang pun menjawabnya. Lalu (beliau) berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorang pun menjawabnya. Lalu beliau berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” maka seseorang berdiri dan mengatakan: “Saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau berkata: “Apa yang menghalangimu untuk menjawab (panggilan) pertama dan kedua kalinya? Saya tidak menyebut kalian kecuali yang baik. Sesungguhnya teman kalian tertahan (yakni untuk masuk ke surga) dengan sebab hutangnya.” Samurah mengatakan: “Sungguh aku melihat orang tadi melunasinya, sehingga tidak seorangpun menuntutnya lagi dengan sesuatu pun.” (Shahih, HR.Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Al-Hakim, dalam riwayatnya: “Kalau kalian ingin maka tebuslah, dan kalau kalian ingin maka serahkanlah dia kepada siksa Allah.”

Dalam hadits lain, dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy ra, ia berkata: “Waktu itu Rasulullah saw duduk di tempat jenazah-jenazah itu diletakkan. Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah langit lalu menundukkan pandangannya dan segera meletakkan tangannya di dahinya lalu berkata: “Subhanallah, Subhanallah, apa yang diturunkan dari tasydid (urusan yang diperberat)?” Maka kami tahu dan kami diam, sehingga bila esok harinya aku bertanya kepada Rasulullah saw, maka kami katakana: “Tasydid apa yang turun?” Beliau menjawab: “Dalam urusan hutang. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi lalu terbunuh lagi sementara dia punya hutang maka dia tidak akan masuk surga sehingga dilunasi utangnya.” (Hasan, An-Nasa’i, At-Thabarani, dan Al-Hakim dan ini lafadznya dan beliau katakan: Sanadnya shahih, Shahih At-Targhib no.1804)

Masih membekas dalam di hati Pak Karto akan amalan doa yang pernah diajarkan oleh Pak Kyai mengenai hadits Rasulullah SAW yang mengajarkan seorang Sahabat Nabi yang terlilit hutang supaya terbebas dari kegalauan dan dimudahkan untuk dapat melunasi hutang-hutangnya. Bentakan keras Si Meneer itu lah yang juga melecut hati Pak Karto untuk kembali rutin membaca dan mengamalkan doa ini. Doa supaya dimudahkan membayar atau melunasi hutang bagi yang terlilit hutang:  

Abu Said Al-Khudhri radhiyallahu ’anhu bertutur: “Pada suatu hari Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam masuk masjid. Tiba-tiba ada seorang sahabat bernama Abu Umamah radhiyallahu ’anhu sedang duduk di sana. Beliau bertanya: ”Wahai Abu Umamah, kenapa aku melihat kau sedang duduk di luar waktu sholat?” Ia menjawab: ”Aku bingung memikirkan hutangku, wahai Rasulullah.” Beliau bertanya: ”Maukah aku ajarkan kepadamu sebuah do’a yang apabila kau baca maka Allah ta’aala akan menghilangkan kebingunganmu dan melunasi hutangmu?” Ia menjawab: ”Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda,”Jika kau berada di waktu pagi maupun sore hari, bacalah do’a:

doa hutang

”Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari bingung dan sedih. Aku berlindung kepada Engkau dari lemah dan malas. Aku berlindung kepada Engkau dari pengecut dan kikir. Dan aku berlindung kepada Engkau dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan manusia.” Kata Abu Umamah radhiyallahu ’anhu: ”Setelah membaca do’a tersebut, Allah berkenan menghilangkan kebingunganku dan membayarkan lunas hutangku.” (HR Abu Dawud 4/353)

Sambil terus mengingat-ingat wejangan Sang Kyai-nya itu, Pak Karto bersungut-sungut beranjak dari tempat Si Meneer sembari terbetik rencana seandainya masa panen tiba, dia akan meminta keringanan hutang dari si Meneer dan melunasinya seperti keringanan yang pernah didapat Bu Masni, tetangga sebelahnya pada musim panen yang lalu.