Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Beberapa hari yang lalu, saya diharuskan hadir pada sidang pelanggaran lalu lintas di Pengadilan Negeri Jakarta Timur berdasarkan surat tilang warna merah yang saya terima dua minggu sebelumnya. Surat tilang ini saya dapatkan karena melalui jalur busway di sekitar Jatinegara, padahal saat itu adalah jam pulang kantor, sekitar jam 17.30 WIB, waktu dimana sehari-hari saya lewati jalan itu tanpa ada pemeriksaan mengingat jalur biasa tak lagi mampu menampung kendaraan yang luar biasa banyaknya ke arah Bekasi. Banyak pengendara yang “terjebak” razia ini. termasuk saya. Setelah motor saya diberhentikan, saya diminta menyerahkan SIM dan tanpa ba-bi-bu, polisi itu langsung mengeluarkan surat tilang berwarna merah. SIM saya pun langsung disita sambil menginformasikan kapan dan dimana sidang yang harus saya hadiri. Sempat terbersit niat untuk minta “sidang di tempat”, namun saya urungkan begitu saya melihat pengendara sebelah yang berusaha menyelipkan lembaran 20ribuan di bawah SIM yang dia serahkan, polisi tak menggubrisnya dengan hanya mengambil SIM (tanpa “lampiran”nya🙂 )

Setelah dua minggu, hari sidang pun tiba. Saya tiba di lokasi jam 8.30 pagi. Terlihat di luar gerbang pengadilan negeri Jakarta Timur sudah menanti puluhan orang yang berdiri sambil menawarkan jasa/calo pengurusan sidang tilang sambil mengacungkan surat tilang warna merah.  Sesampainya di loket penerimaan dan pengambilan nomor antrian, nomor sudah menunjukkan angka 291. Di ruang sidang, terlihat para “terdakwa” sudah mengantri di depan meja para hakim untuk mendapatkan vonis berapa denda yang harus mereka bayar. Panggilan dilakukan setiap 10 orang dengan menyebut nomor antriannya. Ketika sudah menerima “vonis”,  pembayaran dilakukan di ruangan sebelah. Di sana sudah menunggu kasir lengkap dengan ruang tunggu.

2014-11-07 09.28.27

Tibalah saatnya nomor 291 terdengar di ruang sidang. Berdebar rasanya jantung ini karena cemas akan denda yang harus dibayar. Maklum, denda tilang menerobos busway untuk pelanggar yang mengendarai motor maksimal Rp 500 ribu. Rasanya ini semua orang sudah tahu, karena sempat menjadi berita heboh di berbagai media massa tentang berlakunya Peraturan Daerah yang menghukum para penerobos busway ini dengan denda yang berat sebagai efek jera. Di dompet celana rasanya cuma terselip tiga lembar merah dan satu lembar biru. Terpikir apabila saya didenda lebih dari itu, saya akan putar balik kanan langsung pulang ke rumah. Toh, membuat SIM yang baru akan memakan biaya yang sama, malah dengan masa berlaku yang lebih lama.

Giliran saya di depan Hakim yang mulia, tertegun sesaat menatap jari-jari Hakim menerka-nerka berapa denda yang akan dijatuhkan kepada saya. Sambil menuliskan angka, terdengar lirih, sang Hakim menyebutkan angka “Lima puluh ribu”. Aaahhhh…lega rasanya😀

Bergegas saya ke ruangan kasir menunggu panggilan untuk melakukan pembayaran dan mengambil SIM yang disita polisi waktu itu. Sayup-sayup terdengar perdebatan salah seorang Pelanggar yang dikenakan denda 500 ribu karena menerobos busway. Entah apa yang dilakukan pelanggar itu sampai terkena denda maksimal. Saya hanya menduga mungkin si pelanggar melakukan perlawanan kepada polisi saat ditilang. Tidak lama kemudian nomor antrian saya terpanggil. Saya diminta membayar Rp 51.000,- Tidak jelas mengapa setiap denda yang dikenakan selalu ditambahkan seribu rupiah oleh Kasir. Yang jelas saya tidak peduli, yang penting saya tidak terkena denda seberat yang ditakutkan selama dua minggu itu.

Berdasarkan pengalaman saya tersebut, saya akan berbagi tips menghadapi sidang tilang pelanggaran lalu lintas:

  1. Untuk meminimalisir denda, bila memang dalam posisi salah, akui kesalahan, bila perlu meminta maaf, dan berikan surat-surat kelengkapan jalan sesuai permintaan Polisi. Setelah diteliti, sang Polisi ternyata mempunyai kewenangan yang mempengaruhi besarnya denda kepada pelanggar, dengan membubuhkan tanda atau kode tertentu di surat tilang. Hal ini bisa dibaca oleh Hakim saat persidangan. Apabila pelanggar melawan, tentu “pasalnya” juga berbeda.
  2. Bila tetap harus ditilang (secara resmi), ada dua macam surat tilang: surat tilang warna merah dan warna biru, maka pilihlah surat tilang warna merah. Dengan demikian terhindar dari denda maksimal. Surat warna merah artinya pelanggar tidak mengakui kesalahan dan akan disidang untuk mempertanggungjawabkan kesalahannya di depan Hakim. Adapun surat tilang warna biru artinya pelanggar mengakui kesalahannya dan bersedia membayar denda maksimal sesuai kesalahannya. Pembayaran dilakukan melalui ATM sehingga tidak perlu disidang.
  3. Meskipun dikatakan sidang akan dimulai pukul 7.30, biasanya itu “pencitraan” saja. Petugas loket dan para Hakim cs biasanya baru akan tiba di ruang sidang sekitar pukul 08.30. Berdasarkan hasil perbincangan dengan sesama “terdakwa”, banyak yang sudah tiba di lokasi pukul 07.00 dengan harapan akan mendapat nomor antrian di depan. Boleh juga… Silakan menentukan waktu kedatangan masing-masing. Yang jelas, ketika saya datang jam 8.30 pagi, urusan selesai sekitar jam 10.
  4. Gunakan calo bila ingin beramal. Bila tidak, lewati saja, karena menggunakan calo hanya akan menghemat sedikit waktu saja, dengan biaya yang cukup lumayan (antara 20 – 100 ribu). Bedanya kita tidak perlu mengantri di ruang sidang, tapi tetap harus menunggu di sekitar pengadilan negeri sambil minum kopi.

Demikian sharing pengalaman dari saya, semoga informasi ini menjadi tidak bermanfaat karena memang Anda tidak ditilang karena melanggar peraturan lalu lintas🙂